Raden Narayana murid kesayangan Resi Padmanaba penjelmaan Sanghyang Wisnu

- Penulis Berita

Rabu, 6 Maret 2024 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Raden Naraya adalah nama Kresna sewaktu masih muda. Ia putra Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Dewani, putri Prabu Candrapadma raja negara Widarba. Saudara Narayana seayah lain ibu adalah Udawa putra Niken Sagopi, Kakrasana putra Dewi Rohini dan Rara Ireng atau Subadra putri Dewi Badrahini.

Semula Raden Narayana berkedudukan di kasatriyan Banjarpatoman, namun karena jiwanya terancam karena akan dibunuh oleh Prabu Basuwarakangsa raja Sengkapura, oleh Prabu Basudewa ayahnya, Narayana, Kakrasana dan Rara Ireng diungsikan ke dukuh Widarakandang dan dititipkan kepada Demang Antyagopa (suami Niken Sagopi).

Raden Narayana

Oleh karena itu, ketika bertambah putra asuh, maka Ki Antyagopa mengasuh putra seluruhnya enam orang, yaitu Kakrasana (kelak menjadi raja Mandura bergelar Prabu Baladewa), Narayana (kelak menjadi raja Dwarawati bergelar Prabu Kresna), Rara Ireng (kelak kawin dengan Arjuna dan berputera Abimanyu), Udawa (kelak menjadi mahapatih Dwarawati), Adimenggala (kelak menjadi mahapatih Awangga) dan Larasati 9 yang kemudian kawin dengan Arjuna.

Baca juga: Prabu Baladewa Raja yang keras, disiplin, dan pantang mendapat tantangan

Raden Narayana berguru kepada Resi Padmanaba, jelmaan Sanghyang Wisnu di padepokan Nguntarayana. Dia mendapat pelajaran bermacam-masam ilmu dari Resi Padmanaba pula Narayana baru tahu bahwa di tenggorokannya terdapat miniatur jagad (gambar dunia) sehingga kelak dirinya akan menjadi raja yang bijaksana.

Resi Padmanaba memberinya pusaka bunga Wijayakusuma yang terpisah dari kelopaknya (cangkok dalam bahasa Jawa) yang bernama Wijayamulya.

Suatu saat kelopak itu akan dibawa seorang remaja bernama Sitija. Kasiat Wijayakusuma dapat digunakan untuk menghidupkan orang mati yang belum saatnya atau mati diluar takdir.

Narayana juga menerima aji Naragopa, berupa sehelai rambut yang dalam pedalangan sering disebut Kesawa, kegunaannya dapat merubah diri menjadi Brahala berwujud raksasa yang sangat besar. Terakhir, ia diberi pusaka senjata Cakra Baswara.

Didalam lakon Kangsa Adu Jago, Narayana menggunakan senjata cakra pemberian gurunya itu untuk yang pertama kali, digunakan untuk membunuh Kangsa yang telah mengancam dirinya selama bertahun-tahun.

Senjata cakra digunakan untuk yang kedua kalinya ketika Narayana mendapat tugas dewa memusnahkan raja Dwarawati Prabu Yudakalakresna yang memberontak di kahyangan Suralaya.

Negara Dwarawati didirikan oleh Batara Isnapura yang kemudian bergelar Prabu Rudramurti. la menurunkan Ditya Wisnungkara, menurunkan Prabu Ditya Mayangkara, menurunkan Prabu Ditya Kalakresna.

Ia menurunkan dua orang putra yaitu Ditya Mayanggyakresna dan Dewi Mayanggyi. Prabu Mayanggyakresna berputera Prabu Kunjarakresna dan Arya Kresnadenawa, sedangkan Dewi Mayanggyi berputera Dewi Samreti dan Prabu Narasinga raja Dwaraka.

Di sini ada perbedaan antara Dwarawati dan Dwaraka yang keduanya diperintah oleh raja raksasa saudara sepupu.

Prabu Kunjarakresna berputera Prabu Yudakalakresna yang memerintah negara Dwarawati didampingi patih Kudakalakresna (raksasa berkepala kuda). Prabu Narasinga memerintah negara Dwaraka didampingi patih Singamulanjaya (raksasa berkepala harimau).

Prabu Yudakalakresna inilah yang memberontak ke kahyangan Suralaya meminta bidadari Batari Supraba sekaligus ingin menguasai Tribuana.

Untuk menghadapi Ditya Yudakalakresna, Narayana dianugerahi kereta kencana oleh Sanghyang Guru bernama kereta Jaladara kuda Brapuspa, Sukanta, Sonyasekti dan Ciptawilaha.

Karena kesaktian kudanya, kereta Jaladara bisa terbang, bisa berjalan di atas air, dapat berjalan di dalam api dan dapat menembus tanah. Akhirnya Prabu Yudakalakresna dan patih Kudakalakresna tewas di tangan Narayana.

Negara Dwarawati kemudian dianugerahkan kepada Raden Narayana. Ia juga menerima hadiah berupa pakaian kanarendran dari Sanghyang Manikmaya.

Raja Dwaraka Prabu Narasinga menaruh dendam terhadap Narayana yang telah membinasakan saudara sepupunya. Ia bersama patih Singamulanjaya menyerang Dwarawati ingin merebut kembali kerajaan saudaranya itu, namun Prabu Narasinga akhirnya justru tewas dihantam senjata cakra.

Patih Singamulanjaya yang mengamuk menggunakan gada Wesikuning dihadapi oleh Arya Setyaki. Gada milik Singamulanjaya dapat dirampas oleh Setyaki, akhirnya patih negara Dwaraka itu tewas dihantam gada Wesikuning miliknya sendiri. Gada Wesikuning kemudian diambil Arya Setyaki dan menjadi senjata andalannya.

Baca juga: Kakrasana Putra Mahkota yang dititipkan kepada seorang Demang

Dalam lakon Narayana Kembang mengisahkan asmara Narayana dengan Dewi Rukmini yang akan dikawinkan dengan Resi Druna.

Dengan kesaktiannya, Narayana menipu Druna dengan mencipta sekuntum bunga melati menjadi Narayana dan Rukmini palsu. Narayana kejadian dari bunga itu kemudian dibakar oleh para Kurawa.

Berita Terkait

Harimau Singamurti piaraan Prabu Kala Wisnudewa raja negara Garbapit
Gajah Puspadenta kendaraan Prabu Baladewa hadiah dari Batara Indra
Garuda Jatayu gugur sebagai pembela kebenaran
Kuda Uceswara berbulu putih yang keluar dari samudera susu
Kereta Kencana kendaraan untuk para pejabat tinggi
Rampogan, gambaran barisan prajurit dalam wayang kulit
Limbuk dan Cangik, emban sang putri yang setia
Brabah, raksasa gambaran nafsu yang masih membara
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juli 2024 - 14:04 WIB

Wisudha Pelog 5

Sabtu, 20 Juli 2024 - 13:56 WIB

Tlutur Playon Pelog 5

Sabtu, 20 Juli 2024 - 13:52 WIB

Timasan Pelog 5

Sabtu, 20 Juli 2024 - 13:49 WIB

Thukul Pelog 5

Jumat, 5 Juli 2024 - 22:18 WIB

Tejaningsih Pelog 5

Jumat, 5 Juli 2024 - 22:15 WIB

Tejanata Pelog 5

Jumat, 5 Juli 2024 - 22:08 WIB

Tejamaya Gurit Pelog 5

Jumat, 5 Juli 2024 - 22:03 WIB

Taliwangsa Pelog 5

Berita Terbaru

Gendhing

Wisudha Pelog 5

Sabtu, 20 Jul 2024 - 14:04 WIB

Uncategorized

Winurteja Pamong Pelog 5

Sabtu, 20 Jul 2024 - 14:02 WIB

Gendhing

Tlutur Playon Pelog 5

Sabtu, 20 Jul 2024 - 13:56 WIB

Gendhing

Timasan Pelog 5

Sabtu, 20 Jul 2024 - 13:52 WIB

Gendhing

Thukul Pelog 5

Sabtu, 20 Jul 2024 - 13:49 WIB